Harga Diri Sang Penjual Tisu

 Satu tisu terjual, satu suap nasi yang bisa ia berikan
kepada cucunya di rumah.
(Foto: Bagas Taruna)

Pernahkah Anda melihat wanita renta ini menjajakan tisu dagangannya di halte bus yang bersampingan dengan Stasiun Universitas Indonesia? Nyatanya, ia mengaku tak sedikit masyarakat umum dan mahasiswa yang sering menolak tawarannya.
Oleh BAGAS TARUNA SETIAWAN
            Itulah sosok nenek bernama Nuraini, atau biasa disapa Nur. Tiap hari, ia pergi menuju halte bus Universitas Indonesia (UI), Depok, untuk menjual tisu kemasan dengan harga terjangkau. Ia selalu menawarkan barang dagangannya sejak pagi hari.
“Tisu, Bu. Tisu, Mas,” ujarnya tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya ketika orang-orang melewati dirinya di halte. Waktu selesainya berdagang tak menentu, terkadang pada pukul 10 ia bergegas kembali ke rumah kontrakannya yang ada di Citayam dengan kereta. Kemudian, ia mengantarkan cucunya yang masih belia ke sekolah. Dua cucu gadisnya masih duduk di bangku sekolah dasar, sedangkan yang lelaki telah berada di sekolah menengah pertama. “Anak yatim, cucu saya ini,” tuturnya, “ibunya kerja di warung nasi.”
Sekantong kemasan tisu ia usahakan agar dapat berubah menjadi uang untuk membeli beras setengah kilogram. Itu pun ketika tisunya laku banyak. Apabila kurang beruntung, hanya dua buah singkong berukuran kecil yang mampu ia beli untuk mengisi perut yang kosong. Tak hanya rasa laparnya yang ia tanggung. Singkong itu dibagi kepada ketiga cucunya di rumah. Tak tega bila Nuraini mendengar kata ‘lapar’ keluar dari mulut cucunya.
Penghasilannya yang dianggap tak seberapa mengharuskan Nuraini untuk memutar otaknya. “Pusing pikiran saya. Bayaran rumah, makan dari mana, biaya cucu sekolah. Biar anak yatim, tapi sekolah masih bayaran,” ujarnya lesu. “Saya, sih, berharapnya semoga nanti mereka bisa bantu orang tua dan neneknya.”
Nuraini juga bekerja sambilan sebagai buruh cuci. Ketika ada panggilan yang membutuhkan jasanya, barulah ia bisa mendapatkan upah. Ia pun berkata bahwa sudah menekuni pekerjaannya sebagai penjual tisu sejak 2000.
Lokasinya berdagang hanya di halte ini, menjadikannya ia harus bersaing dengan pedagang tisu yang lain. “Ada dua kakek-kakek yang jualan tisu juga, namun serakah. Saya disuruh jangan berjualan di sini, sampai mulut saya dijejelin tisu,” ucapnya kesal. Walau mengaku sering bertengkar, Nur ingin tetap damai ketika berjualan. Ia berusaha berkeliling di sekitar halte mencari rezeki dengan cara yang benar.
Menurutnya, para mahasiswa yang tingkat pendidikannya bagus, tidak menunjukkan sifat sombong layaknya pedagang tisu lain. Bahkan, ia mengaku pernah diperintahkan untuk tidak berdagang di sekitar halte bus UI oleh mereka, karena memalukan. “Saya malah malu kalau mencuri. Saya dagang dengan halal, buat cucu yatim saya. Biar orang susah, saya nggak mau harga diri saya diinjak-injak,” ucapnya.
Namun, ia merasa rezeki sudah ada yang mengatur. “Kadang mahasiswa suka ngasih nasi ke saya. Lauknya ayam atau telor. Tapi saya bawa pulang. Saya nggak makan. Saya taro di tas. Pulang saya suruh cucu yang makan,” kata Nuraini.
Suaminya memang sudah lama tiada. Tak ingat dirinya terakhir kali bertemu dengannya. Ia menceritakan pernah ada namanya tertera di dalam surat wasiat mendiang suaminya. Namun, nama tersebut dicoret oleh adik dari suaminya, dan disalahgunakan. Tetapi, ia hanya mengikhlaskan kejadian tersebut dan melanjutkan hidupnya dengan sabar.
 Nuraini sering dipertanyakan oleh orang lain dengan penghasilannya yang terbilang tak seberapa namun kebutuhan hidupnya amatlah banyak. Ia menjawab pertanyaan itu dengan sederhana. “Alhamdulillah, saya syukuri saja.”

Comments

  1. Perjuangan dan kerja keras yang tak kenal umur. Pembelajaran berharga untuk kita sebagai generasi muda dan penerus bangsa untuk tidak selalu mengeluh akan masalah kehidupan

    ReplyDelete
  2. Terharu akutuuuuu, kalo liat nenek itu jadi inget nenek yg udh gaada :(

    ReplyDelete
  3. masuk kategori street fotografi gk ya?wkwkwk
    tapi emg si, sekilas keliatan dramatis seketika merasa malu sama diri sendiri kenapa ya orang yang berkecukupan itu suka bgt hura-hura, jadi suka lupa diri, pdahal disekitar kita masih banyak orang yang nyari uang demi sesuap nasi...bukan buat dirinya , malah buat orang yang paling dicintai.. :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa loh street photography. Dan betul banget, makasih pendapatnya! :)

      Delete
  4. Sering banget ketemu sama nenek ini, kasian dia tapi nenek ini perjuangannya gak pernah padam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, semangatnya itu nggak padam demi cucunya. Ngomong ngomong padam, lilin tuh eh

      Delete
  5. pernah ketemu sama nenek ini dikereta, dia pernah cerita kehidupannya dia gitu, terharuu banget dan ddia jualan tisu modal dari orng :'

    ReplyDelete
  6. Demi mencari sepeser uang harus seperti ini . Dan kita yang berkehidipan normal masih mengeluh? Wajib baca tulisan yang menyentuh hati seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul juga ya, jadi cerminan diri juga. Terimakasih komennya papabebi!

      Delete
  7. Yampun sedih ngena bgt;( itu ibu2 tisu yang aku sering liat jugaa😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iyakah? Bantu ibunya juga bisa loh, harganya terjangkau kok, bermanfaat baginya pula :)

      Delete
  8. Bener-bener berjuang tanpa mengenal usia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, bagaimana kita dengan usia yang masih muda bisa sepantaran semangat dengan dirinya...

      Delete

Post a Comment

Popular Posts