Yang Muda yang Berkarya: Marcelina Raharjo

Ini foto ketika tim majalah saya, JAKBOOM (eaaa), lagi
liputan di Rumah Kongkow. (Foto: Neneng Hasanah)

YANG BERKARYA YANG DIINJAK

Mengikuti prinsip dan norma dalam kaedah jurnalistik, itu yang kauterapkan di sekolahmu dulu. Sayang, usahamu tak didukung dengan baik dari pihak sekolah tersebut.
Oleh BAGAS TARUNA SETIAWAN
Sebut saja dirimu Marcelina Raharjo, atau biasa disapa dengan Acel. Kau mahasiswi di Universitas Pamulang Fakultas Sastra Angkatan 2016. Selain masih berkuliah, kau aktif sebagai Korps Sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Kota Tangerang Selatan. Namun, kau justru lebih menyukai dunia jurnalistik. Karena hobi, kau bilang. Dan juga motivasi atas keingintahuan apa yang ada dalam jurnalistik. Karena banyak fakta yang dibungkam demi eksistensi.
            Dahulu, ketika masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas di Tangerang Selatan, kau menyibukkan diri dengan ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah tersebut. Kau dengan tim jurnalistik, pernah mampu mengikuti perlombaan menciptakan karya berupa buletin hitam putih. Menjelang kelulusan pada 2015, kau pun mengambil langkah sebagai pembimbing dalam ekstrakurikuler tersebut. Kau menerapkan sistem tim, dimana kalian belajar dan bergerak bersama, hanya saja kau menganggap dirimu sebagai seorang mediator saja. Tapi, hal ini tidak berlangsung lama.
            Pertengahan 2017, kau memutuskan untuk mulai melepas tim ini. Kau beralasan karena pihak pembina sekolah seolah membatasi kreasi dengan ambisi. Menuliskan karya dengan ketidakjujuran dan membenarkan dalil yang kurang benar. Sementara prinsipmu yaitu berkarya harus berseni dan mempunyai kode etik pribadi. Dengan tim, kau menganggap ini adalah tekanan. Bukan karya yang kalian hasilkan, namun tuntutan promosi yang kalian garap.
            Akhirnya, karena kau merasa siswa dalam tim yang tidak serius dalam pembelajaran materi, kau melepas bimbingan jurnalistik di sekolah tersebut. Sistemnya pun berantakan. “Siapa yang kerja, siapa yang mendapat nama”. Kau hanya mau memegang jurnalistik ini kembali apabila sistem di sekolah itu sudah dibenahi. Kau sempat menawarkan bantuan untuk pembenahan ekstrakurikuler tersebut, namun pihak sekolah menolak.
            Kau berupaya agar masih bisa berkarya dalam jurnalistik. Berkarya tidak boleh ada batasan dan tolak ukur. Kau pun mengeluarkan diri dari zona tersebut. Lalu kau mendirikan komunitas kecil dengan struktur yang lebih baik. Latar belakangmu yang berasal dari sastra Indonesia, dirasa kurang cukup untuk tim kecil ini. Maka, kautarik para alumni dan anak jurnalis yang masih minat di bidang tersebut. Rencananya tim ini akan konsisten berkarya karena kalian mempunyai tujuan yang akan dicapai.
            Komunitas ini masih hijau. Kau pun ingin agar komunitas ini dapat menjadi contoh perihal struktur media yang rapi. Sebenarnya, kau juga berharap agar pihak sekolahmu mau dibenahi perkara struktur dan birokrasinya.

Comments

  1. Semangat terus kak marcelina 👍👍

    ReplyDelete
  2. Semoga bertambah bibit unggul anak muda yang berkarya dan membanggakan negeri ini

    ReplyDelete
  3. Terima kasih, jadi terharu ❤️ yang lain menyudutkan, sementara dirimu ambil posisi lain untuk menciptakan sudut pandang yang berbeda ❤️

    ReplyDelete
  4. Semangat terua dalam meraih prestasi 👍👍

    ReplyDelete
  5. nice info
    jangan lupa mampir
    https://nulisminimalis.wordpress.com/2018/10/18/serupa-namun-tak-sama

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts