Di Balik Senyum Indonesia
| Senyum sering dianggap sebagai wajah dari masyarakat Indonesia. Setuju? (Foto: Bagas Taruna) |
Indonesia
terlahir sebagai bangsa dengan 1001 budayanya. Tak luput, budaya ini merujuk
kepada norma kehidupan dan perilaku. Kedengarannya klise, tetapi, senyum
merupakan salah satu kebiasaan dari masyarakat Tanah Air.
Oleh BAGAS TARUNA
SETIAWAN
Senyum
biasa dianggap sebagai sebuah simbol kebahagiaan. Atau juga sebagai
kesopansantunan. Didasari oleh pengalaman penulis, bertemu dengan teman atau
keluarga, ekspresi yang terpampang pada raut mukanya tentu senang sambil
tersenyum. Jangankan dengan kenalan, dengan orang asing pun tentu bisa.
Masyarakat membiasakan budaya ini sebagai lambang kesopanan.
Misalnya
keseharian dari seorang barista atau
peramu kopi ini. Rizki Muhammad Alfi, pria yang berasal dari Tangerang. Selalu
menjunjung tinggi profesionalisme ketika menghadapi pembeli yang beraneka ragam
sifatnya. Senyum adalah identitasnya. “Sudah semestinya tersenyum, supaya
membuat pelanggan nyaman dan spesial," katanya.
Masyarakat
lokal tentu paham dengan persoalan ini. Tapi, mungkinkah orang luar negeri
berpendapat demikian?
Dikutip dari couchstory.org, seorang pria bernama Lukas, yang berasal dari
Republik Ceko, membagikan pengalamannya ketika ia berada di Indonesia. Awalnya,
ia bekerja di Jakarta, pada organisasi nirlaba bagian pemasaran. Namun, ketika
masa kerjanya sudah habis, ia belum mau kembali ke rumahnya. Maka, Lukas
memutuskan untuk melamar pekerjaan baru di sebuah sekolah bernuansa Islam
sebagai guru bahasa Inggris. Berniat hanya ingin bekerja di sana selama dua
atau tiga bulan, ia malah menetap selama setahun.
Pada waktu tersebutlah Lukas merasakan
hangatnya senyum dari berbagai penduduk di Indonesia. Selain menjadi tenaga
pengajar, ia juga bertamasya sembari berfoto dengan penduduk lokal. Banyak
hasil tangkapan kamera yang menunjukkan dirinya tersenyum ria dengan orang
Indonesia yang berbeda-beda. Tak ayal, ketika ia kembali ke kampung halamannya,
ia merasa ada yang berbeda. “Orang Ceko dengan orang Indonesia amatlah berbeda.
Masyarakat di Indonesia terlihat santai, selalu tersenyum, dan mereka tidak
membicarakan tentang masalah mereka. Sedangkan di Ceko, orang selalu
mengeluhkan apa pun,” ujarnya seperti yang dilansir pada laman situs tersebut.
Antropolog Spesialis Kesehatan Jiwa, Dwi Riani
Widyawati, M,Si mengatakan, bahwa senyum tidak hanya mewakili perasaan gembira
saja. Ketika diwawancarai, Dwi berpendapat bahwa setiap orang memiliki senyum yang
berbeda maknanya, sesuai dengan situasi atau suasananya. “Ada yang berarti
kebahagiaan, ada juga yang ketulusan. Namun ada juga senyuman ketabahan, senyum
ketegaran, senyum menggoda, atau bahkan senyuman egois,” tukasnya.
Tetapi, menurutnya, orang Indonesia
menampilkan senyum disebabkan oleh tradisi yang harus menghormati orang yang
lebih tua. Kebiasaan komunal dan berinteraksi secara intens inilah yang menjadi
pendorong kebiasaan untuk tersenyum. Ini didasari oleh budaya gotong royong,
saling menolong, dan empati pada sesama. “Orang Indonesia senang tersenyum,
walau sekarang sudah mulai ada perubahan nilai. Terutama di masyarakat
perkotaan,” ujar Dwi.
Senyum ibarat perisai. Ia mampu menunjukkan suasana hati yang sukacita
dari orang tersebut, namun juga dapat melindungi diri dari emosi yang tak bisa
diperlihatkan kepada orang lain. Tak dipungkiri pula, senyum adalah budaya
Indonesia, selain negeri ini memiliki rendang nan lezat dan corak batik yang
indah di mata dunia. Maukah Anda membudidayakan senyum?

Bener banget gas!!
ReplyDelete:)))))
DeleteSetujuuuu💯
ReplyDeleteSetuju sama tulisann ini kerennn . Apalagi ada fotoku :D
ReplyDeleteManjiwwwww dahhh, luvvv
ReplyDeleteKerenn👍
ReplyDeleteBener banget nih artikel
ReplyDelete