Pelakon Sejarah di Era Hidupnya
| Kembang di Pameran Foto Pementasan Padnecwara “Lakon Jawa dalam Koreografi Retno Maruli”, (14/3/17). (Foto: Bagas Taruna/OLYMPUS E-420) |
Oleh BAGAS TARUNA SETIAWAN
Jakarta, 02 Februari 1972, adalah hari
lahirnya sosok bernama Darmawan. Si sulung dari empat bersaudara ini dikenal
sebagai orang yang pendiam. Namun, masa bangku sekolah, Darmawan diketahui
teman-temannya dengan sifatnya yang sederhana, ramah, dan setia kawan.
Mengenyam pendidikan di SMA PSKD 4 Jakarta
dengan sifatnya yang baik, justru keadaan berbalik ketika ia memasuki jenjang
pendidikan tinggi di Universitas Nasional (UNAS) pada 1991. Diberi
julukan “Hulk” oleh teman-temannya di
kampus, karena posturnya yang besar, mirip dengan tokoh superhero berbadan hijau itu. Dirinya hanya menyempatkan diri untuk
mengobrol santai daripada masuk kelas untuk kuliah. Tapi, adanya saran dari
teman wanita Darmawan bahwa ia harus serius dalam menjalani perkuliahan,
sepertinya menitikberatkan ia dalam kesadaran.
Ia mulai serius menekuni kegiatan di
kampus, dan banyak yang merasakan munculnya jiwa pemimpin dalam dirinya. Serta,
ia sering menjadi pembicara di berbagai kampus lain, bahkan sempat diundang
dalam sebuah acara pada 1998 di stasiun televisi ternama Metro TV, dialog bertema reformasi. Darmawan
lulus dari Universitas Nasional dalam S-1 Jurusan Ekonomi, namun ia melanjutkan
kembali pendidikannya pada S-2 Jurusan Ilmu Hukum, lulus pada 1999. Seusai
kuliah, ia melanjutkan profesinya sebagai seorang pembicara. Serta, dirinya
menyempatkan diri untuk membentuk sebuah grup band beraliran underground
– yang bisa diartikan sebagai musik yang tidak resmi dipublikasikan – atau
aliran ekstrem, yang bernama “Real Good”.
Ia menempatkan diri sebagai vokalis dari grup tersebut.
Hingga pada 26 Desember 2004, Aceh dilanda
bencana alam tsunami, yang menjadi
peristiwa mengenaskan yang menelan ribuan korban jiwa. Hati nuraninya terketuk.
Darmawan memutuskan untuk berangkat ke Aceh pasca tsunami, 30 Desember 2004. Dengan biaya ditanggung pribadi, ia mau memanfaatkan
waktunya untuk menjadi relawan.
Ia membantu korban dan mengangkat para
jenazah yang terbelangkai di Aceh selama dua minggu. Sayang, karena alasan
malas, Darmawan enggan menggunakan masker untuk menutupi rongga pernapasannya
ketika tengah mengangkut jenasah para korban. Inilah yang mengakibatkan ada
rasa tidak nyaman pada saluran pernapasannya, dan menjangkit ke hidungnya.
Lebih lagi, komunikasi dengan kawan dan keluarganya di Jakarta cukup sulit,
mengingat waktu itu jaringan komunikasi pasca tragedi terganggu akibatnya. Ia
sulit memberi kabar. Maka, Februari 2005, ia memutuskan untuk kembali ke
Jakarta, dengan kondisi yang telah jatuh sakit.
Ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit THT
Ciranjang, Jakarta Selatan, sesampai di Jakarta. Hasil pemeriksaan mengatakan
bahwa ia terkena kanker di hidungnya, dikarenakan infeksi dari bakteri yang
terhirup dari para jenazah di Aceh. Operasi pertama dan rawat inap di rumah
sakit dijalaninya. Darmawan juga sempat pindah ke Rumah Sakit Agung, Manggarai,
Jakarta Selatan. Di sana, ia harus mengikuti program kemoterapi, yaitu
pengobatan dengan memasukkan bahan kimia ke dalam tubuhnya, selama 9 kali,
walau ia hanya sanggup menjalani 6 kali kemoterapi saja. Tapi semangat hidupnya
kuat. Ia tak mau dikasihani oleh orang disekitarnya. Ia masih terlihat gagah di
ranjang rumah sakit. Masih bisa tertawa dengan kawannya yang menjenguk dirinya.
Pernah ada upaya oleh keluarganya agar
Darmawan segera dibawa ke Malaysia untuk pengobatan lebih lanjut. Namun, niat
itu diurungkan. Perjuangannya terhenti pada 19 Mei 2006. Badannya tak mampu
melawan penyakitnya lagi. Darmawan melawan kanker di hidungnya selama kurang
lebih 1 tahun, pasca hatinya berkata ia harus menolong para korban di Aceh.
Keluarganya terpukul. Begitupun dengan sahabatnya. Acara tahlilan diadakan esok
harinya di kediaman keluarga Darmawan.
Darmawan hanya pria biasa. Mahasiswa yang
mencari keadilan. Seorang yang bersedia menggulung lengan bajunya demi manusia
tak bernyawa yang ia tidak kenal. Sayang, ia tak bisa merasakan peran sebagai
seorang ayah, ataupun kakek di masa depan. Tak luput perjuangannya diapresiasi
oleh kerabat, sampai detik ini. Ia memposisikan dirinya bisa bermakna bagi
orang yang dirasa asing, menurut kerabatnya. Melekatkan diri ketika ia masih
ada. Namun, itulah keistimewaan dari seorang Darmawan, selain sifatnya yang tak
semua orang punya di masa kini. “Bantu saya untuk membantu dirimu,” adalah
ucapan yang paling diingat darinya.

Sikap dan pemikiran yang sekarang sulit untuk ditemui
ReplyDeleteBetul banget
DeleteGilsss merindingggg
ReplyDeleteMakasih loh wit :o
DeleteKerennnnn
ReplyDeleteSesuai namanya . Sifatnya sangat dermawan
ReplyDeleteManjiwwww
ReplyDelete